Monday, 12 April 2010 23:23
administrator
Cerpen By: Ira Rahmawati 2 Aliyah Al-Mizan
Pagi itu langit agak suram. Sang surya pun enggan menampakkan sinarnya. Entah kenapa rasa khawatir dan cemas menimpa seorang gadis kelas 3 SMA yang sedang duduk di depan teras rumahnya sambil melamun. “kring…kring…” suara telephon berbunyi dan dengan cepat gadis itu mengangkatnya. “Hallo, benar di sini rumah Nona Zaina?” suara dari penelphon. “Ya, saya sendiri, ada perlu apa yach?” sejenak menunggu jawaban. “Apa nona Zaina keluarga dari saudara Rama?” “Maaf bukan, saya bukan keluarganya. Saya temannya Rama.” “Ya sudah kalo begitu tolong kabari keluarganya, Saya dari pihak rumah sakit ingin mengabarkan bahwa sekarang saudara Rama ada di rumah sakit, dia kecelakaan!” “APA!? Baik, Sus. Saya akan segera mengabarkan pada keluarganya. Makasih, Sus.” Ucapnya dan langsung menutup telephonnya dan bergegas mengabarkan berita itu. Setelah mengabarkan hal-tersebut Zaina langsung pergi menuju rumah sakit, dimana Rama di rawat. “Rama…kamu baik-baik saja kan!” ucap Zaina pada Rama yang berbaring di atas ranjang. “Engga kok, Zai. Aku ngga’ apa-apa.” “Syukurlah kalau begitu, Ram. Aku keluar dulu yach.” “Dok, bagaimana keadaan Rama, Dok?” “Untuk sekrang ini dia memang dalam keadaan baik, namun ada luka di bagian matanya yang sewaktu-waktu bisa menyebabkan kebutaan dan….”
Last Updated ( Monday, 12 April 2010 23:32 )
Monday, 12 April 2010 19:40
administrator
By: Neneng Imar
Bertiupnya angin sepoi-sepoi menggoyangkan pepohonan, menyejukkan desa Cicadas, kabupaten Sukacita. Desa Cicadas tergolong suatu desa yang tertinggal dari desa yang lain. Di desa inilah Zubaedah, anak RT Cicadas tinggal. Hampir setiap malam rumah Zubaedah didatangi oleh pemuda-pemuda desanya, karena Zubaedah merupakan bunga desa di kampung itu. “Edah, bapak harap kamu gak usah melayani pemuda-pemuda itu ngobrol. Udah kamu belajar saja, gak usah ladeni mereka.” Kata bapaknya sambil mengepulkan asap rokok. “Ui, bapak. Siapa juga yang suka! Edah mana mau sama pemuda-pemuda itu, sudah pengangguran, jelek-jelek lagi. Ih, amit-amit deh. Edah kan sukanya sama laki-laki yang mempunyai kepribadian. Rumah pribadi, mobil pribadi, kantor pribadi, ya… maksudnya orang kaya gitu louh.” “Kamu itu jangan jadi wanita matre, Edah. Yang penting kamu itu harus mencari suami yang pekerjaannya mengaji.”
Sunday, 20 December 2009 15:04
administrator
Oleh : Mahfudz (V IPS)
Kira-kira 4 hari yang lalu, tepatnya tanggal 22-24 Februari kami mengadakan AGRASI (AL-MIZAN) GALANG KREASI. Yaitu kegiatan yang menerapkan unsur-unsur kepemimpinan, sebagaimana yang diajarkan kepada siswa-siswa Al-Mizan. Selain bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan antar pondok pesantren, dalam agrasi ini panitia banyak sekali menggelar perlombaan untuk para kontingen. Aku banyak mendapatkan pengalaman dari kegiatan ini, dan yang tidak kalah penting adalah pelajaran. Bagaimana caranya memimpin, mengatur waktu, menilai perlombaan, membuat gapura, dan banyak lagi . Aku sempat merekam perkataan seorang ustadz: “Kalau jadi orang itu harus cekatan dan bisa membaca situasi dan tidak seperti jarrod.” Artinya tidak hanya melihat, melotot, tetapi tidak bisa mengambil pelajaran dari apa yang telah dilakukannya. Tak disangka, dalam agrasi ini, banyak orang yang berbeda-beda yang terlihat tidak mempunyai kemampuan ternyata bisa melakukan sesuatu yang besar dan menggemparkan buper secara tiba-tiba. Para peserta juga mendapat kesempatan untuk membuat yel-yel yang lucu-lucu dan menarik sehingga bisa mengundang dukungan khalayak ramai. Kreasi dan atraksi para santri juga unik-unik. Ada yang seperti ABRI dengan rambut cepak yang ditampilkan secara bersamaan. Ada yang seperti polisi komplit dengan pistol yang terlihat asli. Ada yang seperti Batman dengan kaca mata zero dan sayap yang berkibar. Setelah semua nilai hasil pertandingan dikumpulkan, dan setelah progam pada malam harinya, keesokan harinya kami mengumumkan juara-juaranya.
Sunday, 20 December 2009 14:39
administrator
Gemercik hujan membasahi seluruh alam al-Falah. Semilir angin disertai dinginnya udara pagi mendukung para santri untuk tertidur pulas. Tak seorang pun yang terbangun melainkan Dheindy sendiri. Cewek ini merupakan yang paling unggul di antara yang lainnya. Tok…tok… Suara keamanan mulai muncul untuk membangunkan anggota setiap kobong. Satu persatu santri bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu mempersiapkan diri untuk shalat berjamaah. Shobahul khoir…! Kegiatan muhadatsah pagi mulai berlangsung. Membuat suasana pagi menjadi hangat dengan teriakan para santri. Setelah selesai muhadatsah pagi para santri berlari-lari untuk mengantri mandi pagi. Kasihan Dheindy dan Riska, mereka dapat urutan terakhir. “Dheindy udah siap belum?” Sambil mengambil sepatu untuk lomba lari marathon. “Ok, ok, sebentar lagi!” ia menimpali Riska, keras. Cleng… cleng… lonceng pun mulai dipukul. Dheindy dan Riska bergegas lari sekencang mungkin. Namun usaha mereka untuk tidak terlambat ternyata sia-sia. Kismul Amni sudah stand by di gerbang pintu sekolah sambil bawa jilitan (ih… serem juga yach, kaya kusir delman). Mereka terdiam seketika tak bisa berbuat apa-apa. mereka sudah pasrah untuk nerima hukuman dari Kismul Amni.
Last Updated ( Sunday, 20 December 2009 14:52 )
|