Oleh : Wan Harya
Cuaca siang ini panas sekali. Debu beterbangan menampar wajahku secara bertubi-tubi. Sang mentari sebentar lagi hijrah ke sebelah barat. Kondisi tubuhku sudah mulai lemas dan capek. Kakiku tak sanggup melangkah lebih jauh lagi ke depan. Mungkin seratus meter lagi telapak kakiku mengajakku berhenti. Tapi hati ini selalu menantangnya. Ubun-ubun kepalaku dan otakku semakin hangat seakan mau mendidih. Tas yang ada di punggungku semakin menambah berat beban tubuh ini. Sebuah kamus karya Jhon Echol dan Hasan Syadaly masih setia menemani studiku di kampus. Tiga buku cetak lainnya setebal duaratus halaman pun kerap kali ikut mendampingi perjalananku tiap hari yang cukup melelahkan.
Ba’da shalat dhuhur aku ada jam kuliah. Hari ini presentasi mata kuliah filsafat. Kami kebagian kelompok yang paling bontot. Nala dan Habib tak bisa datang, mereka ijin karena sibuk dengan aktivitasnya di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa). Katanya kuliah tidak hanya di dalam kelas, tapi bisa juga di luar kampus. Malah lebih nyata ilmunya. Sedangkan Danu ikut demonstrasi di sekitar kampus, tak tahu apa yang diperjuangkan. Padahal banyak orang mengatakan kampusku adalah kampus rakyat. Tak tahulah, ia tak peduli dengan label seperti itu. Mungkin karena pergaulan saja yang membuatnya ikut-ikutan dengan teman-teman satu organisasi. Oh ya, masih ada Salma. Aku yakin ia bisa mendampingiku dalam presentasi nanti. Hanya kami berdua yang maju, padahal makalah belum di print out. Saat ini flash disknya masih di tangan Habib. Aku seakan hidup sebatang kara di dunia ini. Aah..membosankan sekali.
“Sial, pulsaku habis, ga bawa uang lagi!”
“Dah jam 11.45, aku harus cepat ke kantor Habib, kalau tidak nanti gimana presentasinya?” Gumamku dalam hati sambil melirik ke sana kemari. Di bawah pohon yang rindang di samping tempat parkir kampus, seolah-olah kakiku sudah mengeluarkan mandatnya untuk berhenti sejenak. Aku masih tetap berdiri, bingung mau pergi ke mana?
“Reza! Reza! Oi…!” Dari kejauhan terdengar suara seorang gadis yang rasa-rasanya telah kukenal selama dua semester ini.
“Rasanya aku kenal suara itu, ia pasti Sinta! Ah bukan, A…Salma kali?! Ya..pasti Salma, tak salah lagi.”
Kuputar tubuhku yang hampir semaput untuk melihat siapa yang barusan panggil namaku. Benar-benar salma yang datang. Jaraknya masih cukup jauh dariku, ia melambaikan tangannya sehingga terlihat pergelangan tangannya yang mulus, putih dan bersih. Cewek lulusan Pondok Modern itu selalu terlihat ceria di setiap bertemu denganku. Kulit wajahnya halus, matanya cerah sekali bagai bintang kejora dari timur, pipinya merah bak buah delima yang siap dipanen. Hatinya! Wah, ga kebayang deh. Lughot kromo inggilnya masih kental melekat pada dua bibirnya yang tipis bagaikan irisan semangka dari italy. Ia orang jawa pribumi.
“Assalamu’alaikum. Mengkin presentasi nggi...h?”
“He..eh, tapi kayaknya temen-temen kita yang lain ga ada yang bisa, gimana ya?” Jawabku sambil mengatur pernapasan yang semakin sesak karena salah tingkah.
“Mboten usah dipikir Za, seniki rencang-rencang teng pundi nggih?” Ia merespon dengan tatapan matanya yang tajam dan juga kedua bibirnya yang cukup menawan hati lelaki. Mungkin maksudnya tidak usah dipikir, tapi langsung saja dikerjakan. Permasalahan itu kalau terlalu banyak dipikir, yakin tak akan selesai-selesai. Hanya dengan tindakanlah persoalan hidup apapun akan segera lenyap.
Saat itu juga aku jelaskan semuanya. Aku ceritakan apa yang sebenarnya sedang kualami. Ia pun berkenan membantuku, mulai dari mencari Habib sampai memfoto kopi makalah yang akan di presentasikan. Kami pun berpisah setelah semuanya beres.
Usai sholat dhuhur.
Mentari rupanya mulai kasihan pada para mahasiswa dan dosen. Awan mulai menampakkan wajahnya usai shalat dhuhur.
Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah aku bisa dalam presentasi nanti? Tiba-tiba Hafidz datang menghampiriku sambil menenteng buku yang ada di tangan kanannya. Sekelebat kubaca judulnya, ’Wanita Sahalihah’. Ia seorang pembaca buku-buku Islami yang rajin dan ulet, usianya tiga tahun lebih tua dibandingkan aku. Apalagi kalau pameran buku Islami tiba, Islamic Book Fair di Mandala Bhakti Wanitatama. Pasti satu dua buku dibelinya dari uang tabungannya di ATM.
“Fidz, aku nanti bisa nggak ya ?” Tanyaku pelan.
“Bisa, kamu Pe De aja lagi”
“PD gimana to?”
“Pokoknya maju aja, tak dukung. Inget. Kowe wis sinau kan, insyaAllah Allah kan membantumu”. Dengan santainya ia berkata seperti itu. Tak tahu detak jantungku yang semakin bertambah kencang teringat gadis yang hendak mendampingiku nanti, Salma.
Jarum jam telah menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh menit. Para mahasiswa sudah pada masuk ruangannya masing-masing. Tapi dosen kami belum juga kelihatan batang hidungnya. Kalau kami yang terlambat sering kali kami diperlakukan tidak adil, pokonya lebih dari lima belas menit tidak boleh masuk kelas. Kalaupun nekad masuk kelas, beliau tidak mau mengabsen dan menganggap tidak masuk.
Sedangkan apabila beliaunya yang terlambat masuk ruangan, serasa tidak ada dosa dalam dirinya. Duduk dengan santai lalu menanyakan siapa yang presentasi hari ini? Apakah seperti ini etika seorang dosen perguruan tinggi?
Kami pun mengambil kesepakatan dengan teman-teman untuk tetap mempresentasikan makalah kami. Dua kursi telah kami persiapkan di depan kelas. Tempat duduk aku dan Salma. Ia lebih suka menjadi moderator dari pada presentator. Aku pun mengalah menjadi presentatornya. Laki-laki mana sih yang menolak permintaan gadis manis secantik kayak Salma? Cuaca kembali menyebarkan hawa panasnya. Salah seorang temanku membuka korden sekaligus jendela khas jerman yang berada di belakang kelas.
Suara Salma yang nyaring dan jernih serasa menggetarkan qalbu. Bau parfumnya masih sangat tajam menusuk-nusuk daging hidungku bagian dalam. Ingin rasanya kututup rapat-rapat hidung ini. Aku khawatir akan memudarkan konsentrasiku. Teman-teman sekelas sama sekali tak merasakan hal yang sama seperti yang kualami. Mana aku berani mengatakan hal ini pada Salma dalam keadaan seperti itu. Biarlah, semoga suatu saat nanti ia akan mengerti. Wanita memakai parfum terlalu harum kan tidak boleh, dikhawatirkan menggoda kaum lelaki. Biasa saja lah sekedar supaya tidak bau apek, malahan di zaman akhir ini mereka memakai parfum secara berlebihan. Menyenangkan orang lain itu baik tapi kalau caranya dengan melanggar aturan sama saja menceburkan diri dalam kemaksiatan.
Lima belas menit kemudian datanglah sosok seorang bapak sambil membawa tas berbentuk persegi di tangan kanannya. Beliau duduk dan langsung ikut mendengarkan pemaparan kami yang tengah berjalan. Beliau dosenku pada mata kuliah ini. Terlintas dalam pikiranku kata-kata Hafidz siang tadi. Perkataannya cukup membuatku bersemangat dan percaya diri. Presentasi selesai.
Alhamdulillah. Dua jam kurang seperempat telah kami lalui bersama. Presentasi kami hari ini bisa dibilang lumayan. Memang pada mulanya para audience enggan untuk bertanya. Tampang-tampang mereka masih malu-malu untuk menanyakan sebuah permasalahan. Padahal kami sama sekali tak bermaksud membuat malu mereka. Entah takut disindir teman atau minder dengan suara sang moderator yang terlalu baik olahan kata-katanya dengan berbagai variasi kosa kata.
"Orang hanya bertanya kok, masa ga bisa? Kan lebih sulit ngejawabnya daripada nanya?" Celetuk hatiku berkata demikian. Orang itu belajar tidak hanya dengan membaca buku, tapi bertanya itu merupakan pembuka ilmu. Kalau kita sehari saja bertanya sesuatu sebanyak satu pertanyaan saja, maka dalam satu bulan kita telah memperoleh ilmu sebanyak 30 buah. Kalau dikalkulasikan selama satu tahun, maka ilmu kita telah bertambah menjadi 365 sesuai jumlah hari dalam setahun. Itu baru didapatkan dari bertanya, lebih-lebih dari membaca buku, koran, menonton berita, mengkaji kitab bersama di dalam kelas, musyawarah. Luar biasa ilmu yang akan kita dapatkan.
Khusus hari ini cuma ada satu mata kuliah. Malam ini aku harus segera menyiapkan untuk acara besok malam. Aku diundang pada perayaan ulang tahun Salma. Ia memintaku untuk menjadi MC pada acara itu.
Malam Ahad ini pikiranku berputar, lebih cepat dari putaran jarum jam dinding. Benar-benar sulit untuk memutuskan bisa atau tidak menghadiri acaranya. Bukannya aku takut tidak bisa datang, akan tetapi waktunya malam hari, kos cewek lagi. Belum lagi aku harus ijin pengurus pondok, keamanan pondok yang wajahnya sangar. Tubuhnya gedhe dan kalau sudah mencegah santri untuk tidak ijin, maka santri pasti akan kembali ke kelasnya dengan menenteng kitab kuning. Wah, jadi serba salah, inilah dilematis menjadi seorang santri pesantren. Saat ini sudah pukul sebelas malam. Aku balas sms-nya dengan Hp temanku sekamar. Aku belum sempat mengisi pulsa tadi pagi.
Ass. Sry, kykny aq ga bs. Aq msh bnyk tgs yg blm slsi. Mg acrm brjln lncr tnp hlngn ‘n “Happy Birthday to You” mg pnjg umr. Wass.
Akhirnya aku bisa tidur malam ini dengan sebuah nightmare. Dalam mimpi aku berjumpa dengan gadis itu, wajahnya pucat. Bibirnya kebiru-biruan seperti orang yang kedinginan. Matanya sayu tak bergairah. Ia mengucapkan selamat tinggal padaku. Lalu pergi begitu saja. 1 message received, ada satu pesan dari Salma saat aku bangun tidur.
Rz, smp bsk.
Tak terasa bola mataku basah dan berkaca-kaca serasa mau meneteskan air mata. Seketika jiwaku terasa cemas dan gelisah. Sebenarnya apa yang telah terjadi pada dirinya? Aku jadi merasa bersalah. Maya, teman akrab Salma tak biasanya meneleponku di pagi yang buta seperti ini. Ia memberi kabar bahwa Salma telah berpulang ke rahmatullah. Innalillahi Wainna ilaihi raji’un. Tadi malam sekitar jam dua belas, ia tertabrak di perempatan balkot, balai kota Jogjakarta. Sewaktu Traffic Light masih berwarna merah, teman yang memboncengnya menerobos dengan kecepatan yang cukup tinggi. Tiba-tiba dari arah timur meluncur sebuah mobil mewah dan tepat mengenai sepeda motor yang dikendarainya. Salma terlempar di atas aspal yang sangat keras seperti kerasnya kehidupan ini. Miris sekali Salma masih muda, cantik yang siap menjadi sarjana pendidikan di kampusku. Seorang sarjana yang siap sedia berkorban di dunia pendidikan dan memikirkan anak bangsa supaya tidak dibodohi bangsa lain. Seorang yang akan membimbing putra-putri bangsa untuk siap membawa bangsa ini menuju kejayaan. Tidak harus kaya, tapi terus berkarya.
Sedangkan temannya jatuh dan terjungkir bersama motornya lalu terpelanting jauh dan mengenai cor-coran semen di tepi jalan. Sungguh malang nasib mereka berdua.
Sekitar jam delapan pagi, aku dan Habib pergi ke tempat kosnya di Sapen untuk ikut mengantar jenazahnya pulang ke kediamannya. Minggu pagi yang menyedihkan. Kami hanya bisa berdo’a semoga segala amal shalehnya diterima oleh Allah SWT. Kupandangi langit yang tadinya terlihat cerah bercahaya, sesaat kemudian nampak mendung. Kini, gadis yang menemaniku dalam presentasi kemarin sedang menjalani alamnya yang lain, Alam Barzah. Sungguh masa muda adalah waktu yang sangat berarti dalam kehidupan manusia. Menggunakan masa muda dengan sebaik-baiknya berarti ia telah siap tertawa di waktu tua.
*) Wan Harya adalah santri PP Luqmaniyah Yogyakarta alumnus UIN Sunan Kalijaga Fakultas Tarbiyah PAI
| < Prev |
|---|



