You are here: Home Ekspresimu Cerpen Aku Tetaplah Bunga

KOMUNITAS MATAPENA

Aku Tetaplah Bunga

E-mail Print PDF
“Innaa Khalaqna al-Insaana fi Ahsani taqwiimi”.
Ayat suci itu tiba-tiba hadir dalam pikiranku. Ketika itu aku baru saja pulang ngaji sore, terlihat di sana, di bawah pohon palem, tampak seorang santri yang belum pernah kulihat. Berperawakan tinggi, putih, berpakaian pesantren biru dan terlihat di tangannya kitab tafsir Munir. Sepertinya dia juga telah selesai ngaji.
Subhanallah…….! Mataku berusaha untuk tak berkedip melihatnya, karena ustadzku bilang pandangan pertamanya itu nikmat, dan pandangan seterusnya malah jadi laknat. Aku terhanyut dalam pandanganku. Sampai akhirnya…
Duar!!! Suara itu membuyarkan lamunanku, tak diragukan lagi suara itu bersumber dari bibir mungil milik Winda. Kontan aku tersentak.
“Duh… lihat apaan sih, sampe bengong gitu. Kamu ga liat apa dari tadi santri putera ngetawain kamu?!”
Aku tak menanggapinya. Fikiranku fokus pada pria itu.
“Winda! Kamu tau ga pria itu?” aku menunjuk pria yang kumaksud.
“Oh….! Itu santri baru, namanya San-San, lengkapnya Sansan Zia Ul-haq. Lumayan sih, dia tuh emang cakep, pinter baik lagi, sampai-sampai sekarang dia jadi bahan pembicaraan orang, apalagi cewek, ih…”
“Ko jadi ngomongin  itu sih, udah ah… cabut yuk laper nih”.
Cerita Winda tentang pria itu, ingin kuketahui lebih banyak lagi. Aku penasaran. Astaghfirullah kenapa tiba-tiba pikiranku seperti itu?
Pertama masuk pesantren ini aku takut ga betah dan takut ga punya teman waktu itu. Semua santri baru harus mengikuti Matasa (Masa Taujihat Santri). Kalau di sekolah MOS, nah kalau di pesantren Matasa. Jadwal pagi adalah olah raga, aku bingung, semua santri baru berpakaian olah raga panjang, sedangkan aku? Dari dulu aku tak mengenal baju olah raga panjang. Di tengah kebimbanganku, seorang berjilbab panjang menyodorkan baju olah raga panjang.
“Kamu Nisa kan! pakailah baju ini, karena kamu membutuhkan.
Aku kaget, ternyata di dunia ini masih ada orang sebaik dia. Seiringnya waktu aku semakin akrab dengannya, dan kuketahui bahwa dia adalah Winda Rofiah, seorang wanita berkaca mata, dewasa, pengertian dan pintar, aku bangga mempunyai teman seperti dia. Aku selalu bersamanya ke mana pun dan kapan pun sehingga aku dan dia disebut dua sejoli.
Rabu sore, seperti biasanya jadwal pengajian tafsir Munir langsung digurui oleh pengasuh pondok pesantren. Aku dan Winda selalu berada di shaf paling depan. Pengajian apapun yang disatukan dengan santri putera pasti selalu ada dinding pemisah atau satir.
Seluruh santri menyebut pak Kyai dengan sebutan ayah, katanya sih kesannya itu agar bisa lebih dekat sedekat anak kepada ayahnya.
Ketika ayah duduk, tiada seorang pun yang berani berkata, suasana pun jadi tenang setenang air di sungai. Waktu itu juga ayah menunjuk santri putera untuk mengartikan sebuah redaksi tafsir dan menjelaskannya.
“Shaf pertama baris ketiga dari kanan” seperti itulah kebiasaan ayah jika menyuruh untuk menjelaskan.
“Subhanallah…..! siapa sih yang baca, sempurna banget” lirihku dalam hati. Aku mendengar penjelasan santri putera singakt padat namun berisi, dalam hati aku menyebut satu santri putera yang mempunyai suara seperti itu.
“Adam, bukan. Oma, ehm… bukan gitu dech, Hasan apa lagi, andai satir itu dibuka pastilah aku ga sepenasaran ini, karena aku langsung melihatnya.
“Cukup” ayah berkata. ” Siapa nama kamu? Tambahnya. “Sansan, ayah! Tepatnya sansan Zia Ulhaq.”
Deg…! Suara itu ternyata dia… aku kagum padanya, baru juga beberapa hari dia di sini udah pada rame apalagi kalau 3 tahun?
Semakin hari namanya semakin terkenal dari tukang bakso al-Falah sampai pengasuh pondok pesantren. Dan aku juga semakin kagum. Hanya kagum.
Aku bersyukur karena dia satu kelas denganku.
Pada hari itu pelajaran Bapak Ali dan kebetulan tidak ada. sebagai badalnya yaitu Pak Akbar.
“Anak-anak! Dari pada waktu terbuang, kita gunakan kesempatan ini untuk berdiskusi” kata bapk Akbar.
“Yes…!” Kataku dalam hati. Ya… diskusi adalah pelajaran yang sangat kusukai.
Pak Akbar memberi kepercayaan kepadaku sebagai narasumber dari wanita, sedangkan dari putera…” ya Allah, mimpi apa aku semalam. Ternyata wakil dari putera adalah Sansan. Tapi, lagi-lagi mata Winda melirikku dengan tajam, dia mengingatkan jangan melihat Sansan seperti itu. Ya…apes deh.
Akhir diskusi aku seneng banget, ternyata dia juga cakap dalam bicara. Rasa sukaku terhadap Sansan makin besar, aku menyukainya, mungkin lebih. Kemudian, di kantin Bu Dede, aku melihat Winda sedang makan, aku langsung menghampirinya.
“Hey! Makan ko ga ngajak-ngajak, dah lupa ya…! Winda tetap menikmati makanannya.
“Eh, gimana semester depan siap ga? Aku memulai pembicaraan sekali lagi. Meski, tidak menjawab pun juga ga apa-apa, toh aku sudah tau jawabannya, pasti dia bilang “aku belum ngapalin”. “ngapalinnya terlalu banyak” dan lain-lain. Padahal itu adalah jurus tawadhu’nya. Tanpa ngapalin pun dia bisa. Kadang akuberfikir sulit sekali tipe seorang wanita seperti Winda di dunia ini. Aku takjub.
“Kalau kamu gimana, Nis! Ah, pasti  kamu udah ngapalin ya!” ia balik nanya.
Aku dan Winda selalu terdepan dalam segala bidang. Sebagai contoh, kemarin aku rangking 1 dan dia rangking 2. Tapi ada sedikit perbedaan antara aku dan Winda. Aku periang, terbuka, cerewet dan kekanak-kanakan. Sedangkan Winda? 180 derajat kebalikan dari aku. Kadang aku suka menganggap dia sebagai kakakku.
“Win…! Ntar sore anter aku ke perpus ya! Please!” Pintaku.
“Emang mau ngapain sih, aku perhatikan kayaknya dari kemarin kamu ke perpus melulu” jawabnya.
“Ya mau pinjem bukulah, masa ke perpus mau masak?
“Ya udah gimana nanti aja?”
Akusenang! Karena aku sering ketemu sama Sansan di perpus. Jujur aja aku berniat ke perpus bukan untuk baca atau pinjem buku, tapi hanya sekedar ingin melihatnya.
Sore hari.
Aku dan Winda di perpus.
“Win! Aku ke belakang dulu yach.”
“Ya udah cepetan”.
Yes! Aku bukan mau ke belakang tapi ingin melihat Sansan yang sedang asyik baca buku. Ketika aku melihatnya dengan khusuk, sebuah pukulan mendarat di pundakku.
“Oh… ternyata kamu ke sini hanya untuk melihat aja,” duh… kenapa sih selalu aja ada gangguan.
“Ya enggaklah, aku mau pinjem buku, beneran, swear!!”
Janjiku.
Hari berikutnya aku sengaja minta anter ke teman-teman selain Winda untuk ke perpus. Tujuanku untuk melihatnya.
Tak terasa, besok aku akan semester, sedikit pun aku belum persiapan. Aku sibuk mikirin Sansan.
Malam senin aku curahkan isi hatiku ke Winda.
“Win ! aku ga tau apakah ini salah apa bukan, tiap hari aku mikirin orang yang ga jelas itu. Jujur ajaWin! Aku mencintainya dari hati kecilku. Aku ingin dia menjadi pacarku.” Panjang lebar kuutarakan.
“Nis! Aku ga ngelarang kamu suka ama siapa aja ko. Itu fitrah, tapi awas! Kadang cinta itu bikin kita lupa segalanya! Ingat Nis, mencintai bukan berarti memiliki. Udahlah, besok mau semester, fokuskan dulu belajarmu”.
Uffh! Teganya hatiku dia sirami dengan nasehat-nasehatnya. Thanks Winda…!
Seminggu setelah semester,  pembagian raport…
Aku kalah, aku jadi yang ke 3 dan Winda ke 1 dan juara umum. Aku iri. Tapi dia emang pantas ko, dia rajin ngapalinnya.
Kuakui selama menyukai Sansan, seluruh waktuku kuhabiskan untuk membuat puisi cinta. Waktu belajarku terganggu dan aku sadar, aku berbuat salah.
Pengumuman di sekretariat berbunyi.
“Nisa Siti Khumairah ditunggu telephon.”
Dengan  langkah pasti, aku menuju telefon.
“Hallo, Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam…, gimana raportnya, Nak?
Deg……! Ga tau kenapa hatiku bagai ditumbuk batu. Suara itu adalah Abiku, dan dia bertanya raportku? Ya Allah… apa yang harus kukatakan,” lirihku.
“Bi!  Alhamdulillah, eh… Abi jangan marah yah, Nisa semester ini ga dapat juara satu lagi,” ucapku dengan berat.
“Apa yang terjadi, Nak. Kenapa bisa seperti itu?” suasana menjadi hening sejenak.
“Tapi biarlah, toh semuanya udah takdir. Lain waktu, kamu lebih rajin lagi ya, Nak, liburan nanti masmu yang akan jemput. Dah dulu ya, assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikum salam.”
Aku  menutup telepon dengan perasaan sedih. Aku dapat meraskan kekecewaannya.
Duh, Gusti, hamba telah menyakiti orang tua, mengecewakannya, ampuni hamba.
Waktu itu juga aku langsung ke kobong dan memeluk sahabatku Winda. Aku tumpahkan dan diriwayatkan oleh mataku di pangkuannya. Pada sahabat tempat aku mengadu.
“Win! Aku bodoh… aku anak durhaka!! Teganya aku menyakiti orang tuaku!!” Sesalku.
“Nis! Hei, ada apa sih ko tiba-tiba nyeselin diri-sendiri?” tambahnya.
Aku ceritakan semuanya, bahwa aku telah berubah, dulu aku yang tadinya rajin, hemat, kini aku jadi orang yang malas dan boros. Para asatidzah meragukan keberhasilanku, teman-temanku semuanya menjauhiku. Aku biadab, aku seperti itu gara-gara dia, waktuku habis untuk memikirkan dia, semuanya kulakukan untuk dia. Dan tidak sedikit pun dia merespon sikapku. Aku juga malu sama teman-temanku, mereka menganggap aku tergila-gila, mengejarnya.
Aku bingung, aku merasa ga punya tempat.
“Nis! Aku juga merasakan perubahan dalam dirimu. Dulu akuselalu melihatmu membaca, membaca dan membaca. Sekarang aku selalu melihatmu membicarakan Sansan bersama teman-temanmu. Dulu kamu targetkan sehari kamu harus jajan Rp 1.000, tapi aku melihatmu tiap sore pergi ke MM (Mini Market) dan kau memberikannya pada Sansan. Dan maaf !! baru kemarin aku dipanggil guru bahasa Indonesia, Bu Entay, dia merasa kecewa dengan nilaimu yang selalu anjlok. Dan masih banyak perubahan lagi yang kamu perbuat. Berkali-kali aku mengingatkanmu, tapi bagai menulis dalam air, peringatanku, sedikit pun tak membuahkan hasil, itu karena saking cintanya kamu pada Sansan.”
Tangisku memecahkan keheningan, aku menangis sejadi-jadinya setelah mendengar penuturan Winda.
“Nis! Sudahlah…, semua pasti ada hikmahnya.”
Di tengah kesedihanku, tiba-tiba bayangan Sansan hadir dalam pikiranku.
“Win! Tapi bagaimana dengan Sansan, aku mencintainya! Kamu juga tau kan Win, baru kali ini aku mencintai laki-laki dengan setulus hatiku, aku mencintainya, Win! Tapi kenapa… kenapa usahaku sedikit pun tidak pernah dia hargai, kenapa, Win…?!” Sesalku.
“Nis! Jangan pernah salahkan dia, salahkan dirimu, kamu telah diperbudak oleh cinta, kau memujinya setiap saat. Sedikit pun tak ada yang salah dengan perasaanmu. Tapi kamu salah cara dalam mencintai seseroang.
“Kamu telah mengagungkan cinta. Cintai dia sewajarnya.
“Nis! Aku merindukan sikapmu yang dulu.”
Secercah cahaya menyerapi hatiku, setelah kudengar nasihatnya aku berjalan tegak lagi, aku temukan jalan terang. Wind! Harus dengan apa aku membahasmu.
Sansan… lelaki yang terkenal dengan gadhul basharnya, kepintarannya, keaktifannya, tak pernah kulupakan dalam memoriku.
Wahai penerang hatiku…!
Tataplah aku meski sekilas
Sinari aku meski setitik cahaya
Aku ingin merasakan sinarmu
Beberapa hari setelah itu, bukannya aku melupakannya, tapi cinta itu mengalahkan semuanya.
Aku benar-benar mencitainya.
Aku sakit.
Teman-temanku, tentunya Winda, menmgantarkanku ke Poskestren, aku diperiksa. Aku merasakan panas di sekujur tubuhku.
“Kamu… perlu banyak istirahat, ini bersumber dari banyaknya pikiran. Supaya kesehatanmu stabil, ibu sarankan untuk dua hari ke depan kamu perlu perawatan khusus di poskes.”
Ibu dokter panjang lebar menasehatiku, jangan inilah, jangan itulah, harus makan ini, itu. Dan pesan terakhir aku harus dirawat di poskes selama 2 hari. Aku setuju aja, karena menurut dokter baik, baik juga menurutku.
Malam sabtu itu adalah malam pertamaku di poskes, aku ditemani Winda.
Suara ketukan pintu memecah keheningan.
Tok-tok-tok.
“Siapa malam-malam gini menjengku. Ah paling asatidzah. Wind, tolong dibuka,” aku langsung tutup rambut karena ternyata yang datang adalah santri putera. Dan lebih kaget lagi santri putera itu… dia Sansan. Oh Tuhan…! Mimpikah aku? Aku bagai terbang tinggi karena pria itu menjengukku? Apakah dia mengetahui pangilan hatiku di setiap waktu.
“Halo, Nis… gimana, udah baikan? Suara itu meluncur begitu aja dari Sansan. Aku yang ditanya malah bengong.
“Nis! Kamu ditanyain tuh” bisikan itu deket sekali dengan pendengaranku, tentunya Winda yang ngomong. ‘
“Oh… aku… aku.. aku udah baikan, ya… hanya perlu istirahat,” aku menjawab dengan terbata-bata.
“Lain kali kamu jangan terlalu capek, jangan kau gini. Oh, hampir lupa ini ada sedikit makanan, mudah-mudahan aja bermanfaat,” lanjutnya.
Oh tentu, jangankan makananmu, dengan melihatmu pun aku sembuh. Bisikku dalam hati.
“Oh… makasih ya!”
“Aku pamit dulu, masih ada urusan, assalamu’alaikum. Eh cepet sembuh ya.”
“Wa’alaikum salam,” jawab kami bersama-sama.
 Setelah ia keluar, aku memejamkan mata, kuhirup udara sebanyak-banayknya, aku memeluk bingkisan itu, aku tersenyum.
Ah…! andai kau tau, bahwa aku sakit karena memikirkanmu.
Setelah mataku terbuka, aku tidak menemukan Winda, aku mencarinya.
“Wind! Kamu ngapain di sana, di tempat gelap lagi. Eh, Wind! Aku seneng banget  malam ini, aku merasa menjadi orang paling bahagia di dunia, aku senang…!”
Tapi yang kutangkap dan wajahnya hanya senyum tipis.
“Wind! Bukannya seneng, ko malah kaya sedih sih?”
“Engga, aku ga kenapa-napa ko, selamat aja ya.”
Hanya itu yang ia ucapkan. Kemudian dia berlalu dari hadapanku.
Pagi hari.
“Nis, sorry hari ini aku ga bisa nemenin kamu. Coz, di sekolah ada ulangan. Tapi tenang, aku dah nyuruh Dita untuk nemenin kamu, ga papa ya. Dah… assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam”
Kayaknya dia terburu-buru, belum lama setelah itu aku menemukan tempat pensil Winda, di sampingku. Aku ingin teriak, tapi bayangan Winda udah ga ada.
“Dasar!”
Aku kembali tersenyum ketika aku melihat kresek putih di dalamnya ada roti, susu, dan banyak makanan lagi.
Aku langsung memakannya dengan perasaan, aku menikmati suap demi suap, dan aku berkhayal Sansan menyuapiku.
Setelah selesai makan aku iseng, buka-buka tempat pensil Winda. Wow! Ada surat, ehm… ketahuan.
Baca ah…!
Aku melihat dan membaca surat itu.

Salam rindu untukmu!
Kuberanikan diri mengirim sebuah surat kehadapanmu, aku melihatmu di poskes sedang menjaga temanmu, danku jadikan kesempatan malam itu untuk menjenguk temanmu, meskipun sebenarnya tujuanku adalah mengirim surat untukmu dan yang terpenting adalah melihatmu.
Aku membaca surat itu dan firasatku mulai ga enak. Tapi meskipun begitu aku meneruskan lanjutannya.
Winda! Kau cantik, pintar, baik dan dewasa. Itu adalah wanita pilihanku. Namamu selalu kusebut dan dirimu yang selalu kurindu. Meskipun aku terkenal dengan anti cewek, tapi aku juga punya hati, punya perasaan.
Aku mencintaimu Winda!
Aku tidak butuh jawabanmu, aku merasa tenang jika kau mengetahuinya.
Nanti malam minggu aku akan ke poskestren, beri kesempatan lagi untuk melihat dan bercakap-cakap denganmu.
Kuharap kau mengerti.
Sansan Zia Ulhaq

Tanpa kusadari kertas itu tak ada yang kering, semuanya terbasahi air mataku. Aku tak kuasa membaca kata terakhir dan surat itu “Sansan Zia Ulhaq”, aku kembali membacanya kata itu, kuberharap penglihatanku salah. Tapi, nama itu sangat jelas tertulis dalam surat itu.
Gemuruh ombak terjadi dengan kerasnya di hatiku ketika kau lemparkan satu kata cinta bukan untukku.
Aku remuk tak bertulang.
Harapanku yang tak berujung.
Ingin kenyataan ini maya.
Suara kaki menghentikan tangisku, aku yakin Winda akan mengambil tempat pensilnya.
Segera kuhupus air mataku dan dengan cepat surat itu kulipat dan kukembalikan ke tempat asalnya.
Aku pura-pura memasang walkman. Dengan tergopoh-gopoh ia langsung menubruk pintu dan mengambil tempat pensilnya. Aku bisa menebak dia takut aku membacanya.
“Nis…! Kamu ga buka tempat pesnilku kan?” ujarnya.
“Hah…! buka? Enggak kok, dari tadi aku asyik dengerin walkman, emang ada apaan sih?” Balasku pura-pura tidak tau.
“Engga, ga kenapa-kenapa ko.”
“Wind! Kenapa kamu ga jujur saja bahwa Sansan mencintaimu. Oh! Aku tau kamu ga melakukan hal itu karena kamu menyayangiku. Kamu ga mau aku bersedih. Itu kan keinginamu?” Aku berkata dalam hati.
“Eh. Wind! Gimana ulangannya? Lancar ga?” Aku mengalihkan pembicaraan.
“Alhamdulillah tapi ada satu soal yang rumit. Jawabnya. Aku masih melihat kecemasan di wajahnya.
“Wind! Aku pengen nanya, Sansan cinta ga yah sama aku?” pertanyaan itu kumaksudkan menguji kejujurannya.
“ehm…! Ya, mungkin, buktinya semalam dia ngasih makanan, itu tandanya dia suka sama kamu. Jarang lho santri puteri seperti kamu yang dikasih makanan oleh seorang pangeran,” dia mencoba menghiburku dan aku senyum sinis.
“Bukan itu jawabannya Wind, aku udah tau semuanya kenpa kau bohong!” Suara hatiku lagi.
“Tapi, gimana kalau Sansan mencintai yang lain?” aku kembali mengetes kejujurannya.
“Ah… udah ah, cepek ngomongan itu mulu, aku cabut dulu ya, temen-temenku udah nungguin. Bye.”
Winda!! Kau bagai bintang yang ada di langit sana.
Kau pantas mendampinginya karena dia matahari dan aku hanyalah bunga yang tak bisa menggapaimu!
Matahariku…!
Pergilah… sinari bintang yang selalu ada di hatimu, biarkan bunga ini menatapmu
Biarkan aku bersama ilalang-ilalang yang selalu setia menemaniku
Izinkan bunga ini tumbuh di bawah sinarmu
Aku menata hatiku yang hampir retak, aku berusaha meyakinkan diriku bahwa semua ini nyata bukan maya.
Tak henti-hentinya aku melafadzkan istighfar.
Karean aku yakin ketenanganku adalah berdzikir.
Malam minggu!
Aku mengetahui bahwa malam ini Sansan akan ke poskes, bukan menjengukku melainkan menemani temanku Winda dan bercakap-cakap dengannya. Aku sering melihat Winda di teras poskes, kadang di bangku dan kadang di belakang poskes.
Aku dapat merasakan kebimbangan dan kegelisahan di hatinya. Sampai suatu ketika dia menghampiriku.
“Nis...! aku, aku ga bisa bermalam di sini, ehm… aku patrol di rumah bu Nyai, kamu sama Dita lagi ya?” Ujarnya dengan takut, ya, takut, takut ketahuan bahwa dia bohong. Aku mengetahui bahwa patrol malam sekarang bagian asatidzah bukan santriwati.
Intinya, dia ga mau ketemu ama Sansan.
“Wind! Ini malam terakhir perawatanku di poskes. Aku ingin kau yang menemaniku. Pokonya aku ga mau kamu keluar, kamu harus di sisiku sampai besok, titik.”
Aku langsung tiduran di kasur dan aku pura-pura tidur. Sesekali aku ngintip di balik selimut biruku. Tampak di depanku, Winda mondar-mandir ga karuan.
“Wind, aku tau kamu memikirkan kedatangan Sansan. Kamu bingung apa yang harus kamu perbuat!” Batinku. Tepat pukul 21:05.
Ketukan pintu terdengar, Winda langsung memakai kerudung dan membuka pintu. Aku mengintip, Winda langsung keluar dengan hati-hati takut ketahuan olehku, kemudian Winda menutup pintu.
Aku bangun, dan lagi-lagi aku ngintip. Kebetulan sekali Sansan dan Winda mengambil tempat di dalam poskes, bersebelahan dengan kamarku. Dan hanya gorden putih yang memisahkan aku dan mereka.
Mataku berkaca-kaca ketika melihat dihadapanku, Winda sahabatku dan Sansan pria pujaanku. Mereka duduk berdua. Aku membayangkan, di sana, aku dan Sansan bukan Winda. Tapi, segera kuhapus bayangan itu.
“Ya Rabb! Ikhlaskan hatiku untuk menerima keadaan ini.”
“Wind! Pertama, aku mau minta maaf tentang surat kemarin, kedua tentang kedatanganku malam-malam. Aku harap kamu tidak merasa terganggu.”
Suara kaki itu mengalir begitu saja dari Sansan. Dan Winda hanya tertunduk.
“Wind! Meskipun dalam surat itu tertulis bahwa aku tidak membutuhkan jawaban, tapi setidaknya aku ingin kau berkomentar.”
Lagi-lagi Winda menunduk.
“Wind! Hikmah walau kabar kahatir (kalimatkanlah) padaku walaupun itu kabar yang pahit.”
Aku melihat penantian di wajah Sansan. Sedangkan Winda diam tak bergeming.
Aku kesal melihat perlakuan Winda ke Sansan.
Dalam hati aku berkata “Ayolah, Wind! Bicara… bicara… apapun jawabanmu aku terima, Wind! Jangan buat dia kesel. Bicaralah, ayo! Tanpa terasa butir-butir air mata mengalir di pipiku.
Bagaikan ada seorang malaikat, ucapan hatiku tadi membuat Winda bangkit dan siap untuk bicara. Aku juga menunggu jawaban apa yang akan dilontarkan Winda.
“Ehm! Aku, tidak terganggu dan aku seneng kamu dapat mencurahkan isi hatimu. Awalnya aku menyayangkan surat itu buat Nisa, ternyata khaba dzanni (sangkaannku salah), terus, tentang hatiku sendiri, sebenarnya aku sudah disiapkan calon suamiku oleh orang tuaku dan aku pun mencintainya dengan tulus.
Apa? calon suami? Itu salah. O, ia bohong, orang tuamu sendiri pernah mengatakan padaku bahwa untuk Winda tidak dijodohkan seperti kakak-kakanya yang lain. Winda diberi kebebasan oleh orang tuanya untuk memilih pilihannya. Kenapa dia mesti bohong kenapa kemudian aku melihat reaksi Sansan, terlihat diwajahnya penyesalan dan kekecewaan.
“Wind! Jangan kau buat dia sakit hati. Bahagiakanlah dia.” Bisikku.
“Aku akui emang kamu itu terpandang baik di mata semua pihak, kamu emang cerdas, pintar dan aktif, tapi aku tidak mencintaimu. Perlu kamu ketahui San! Seorang wanita dengan setulus hatinya mencintaimu. Dia relakan hidupnya, kehormatannya untukmu.
“Aku pikir kamu juga merasakan, setiap sore kiriman untukmu, dia selalu melihatmu di perpus? Apakah kamu merasakannya?”
“Oh… tidak, kenapa kamu bicara itu. Biarlah hanya aku dan kamu yang tau bahwa aku mencintanya. Lagi pula aku telah relakan hatiku tuk melupakannya,” Batinku.
Kemudian aku melihat Sansan, dan berujar. “Siapaun orangnya, jika hatiku tetap memilihmu, aku tak akan berpaling.”
Sakit… sakit banget matahariku! Kenapa kau ucapkan kata-kata itu.
“San! Jika kamu berkata seperti itu, maka aku pun sama, aku tidak mencintai siapapun kecuali calon suamiku.”
“Oke! Aku terima penolakanmu, tapi kumohon agar kamu tetap menjadi temanku, sekali lagi aku minta maaf, assalamu’alaikum.”
Dengan jalan gontai, Sansan keluar, aku dapat merasakan kekecewaannya. Sedangkan Winda, aku melihat dia sedang menangis. Aku merasa bersalah.
“Rabb… apa yang harus kuperbuat?”
Kekagumanku pada Winda semakin bertambah, dia rela membohonginya demi aku. Aku menuju kursi dan menghampiri Winda, lalu aku menepuk pundaknya.
“Nis! Kok kamu ga tidur, jadi… jadi kamu…”
“Aku mendengar dan mengetahui semuanya, mulai dari surat itu sampai penolakanmu,” kata-kata itu aku ungkapkan setenang-tenangnya.
Winda memelukku.
“Nis…! Aku mohon maaf. Aku benar-benar pusing, bukannya aku tidak mau membertahukanmu, tapi akut akut kamu makin sakit.”
“Nggak! Ga pa-pa… nyatai aja. Tapi kenapa kamu berbohong tentang calon suamimu? Tanyaku dengan suara serak.
“Aku gak tau harus bilang apa lagi yang ada dipikiranku hanya kata itu. Aku benar-benar pusing, Nis! Lagian aku tidak mencintainya.”
“Tapi dia mencintaimu, Wind.”
“Engga! Aku gak cinta, tak ada target mencintai pria selama masih SMA dalam hidupku, tugasku hanya belajar.”
“Kamu salah Wind! Perasaan cinta datang kapan saja tanpa melihat waktu. Cinta itu fitrah, Wind.”
Aku sengaja mengucapkan kalimat itu, mungkin saja dia masih ingat bahwa kalimat itu sebelumnya udah dia ucapkan kepadaku. Ternyata benar! Winda langsung menatapku dan…
Ha…ha…ha… kami tertawa di tengah–tengah kesedihan.
“Wind! Makasih ya… kamu telah berikan aku tuntunan hidup. Meskipun hakikatnya dari Allah. Dan kau telah berkorban demi aku. Aku malu, harus dengan apa aku balas kebaikanmu.”
“Kalau kamu mau balas kebaikanku, aku ingin kau membalas dengan sebuah janji bahwa kau tidak pernah mencintai dengan sangat, tapi kau mencintai dengan sikap biasa-biasa.”
“Ya deh… aku janji. Tapi… aku harap kamu mengijinkan aku untuk tetap mencintai Sansan.”
“Tu kan…! itu karena kamu sangat berlebihan mencintai dia, akibatnya seperti ini deh. Kamu keukeuh mencintai dia.
“Ngga…! Aku Cuma boongan ko, aku dah melupakannya.”
“Gitu dong, yuk ah… tidur, ngantuk neeh!”
Akhirnya aku dan Winda beranjak ke tempat tidur. Kami tidur seranjang karena tidak ada lagi kasur. Aku tak bisa tidur, kulihat Winda tertidur pulas.
Aku kembali memutar kejadian-kejadian tentang kisah cintaku. Tiba-tiba aku merindunya…. dan tak kusadari aku menangis lagi.

Oh… matahariku!
Merinduimu menghadirkan tangisan
Aku telah membohongi diriku dan temanku
Aku berkata tidak akan mencintaimu lagi
Dan aku berjanji akan melupakanmu

Matahariku…!
Hatiku tidak mengizinkan untuk melupakanmu
Aku tetap mekar jika kau bersinar
Dan aku layu jika kau redup
Selama matamu terbuka, aku tak kan pernah layu
Jangan pernah kau berfikir aku akan layu
Jika kamu tidak menerima kehadiranku
Karena aku tetaplah bunga
Comments (2)Add Comment
0
Wow....
written by Windha Larasati, December 15, 2009
Jan, sing bikin iki ngefans karo aku... smilies/cheesy.gif
0
Salam
written by matapena, December 20, 2009
Bisa jadi... yah, semoga tidak terlalu membuat seseorang berbangga hati terussmilies/smiley.gif

Write comment

busy
Last Updated ( Wednesday, 16 December 2009 16:21 )  

Latest Members

Galeri Foto

Berlangganan FEED via email

Enter your email address:

Latest Comments

Who's Online

We have 3 guests online