You are here: Home Ekspresimu Cerpen Batu

KOMUNITAS MATAPENA

Batu

E-mail Print PDF

Oleh: Adam R. Nugraha

Angin malam mulai bertingkah seolah-olah sudah menjadi sebuah kebiasaan untuk menemani Batu yang selalu terdiam di muka jendela. Ranting pun girang ikut menari bersama nyanyian angin, mencoba menghibur mata Batu yang sepi; sedang mengenang tapak sejarah hidupnya.
Saat menatap lapang kosong yang dipagari pohonan rimbun. Batu menangkap sebuah tanya dalam benaknya.
“Kenapa aku ada di sini, sebuah tempat yang banyak orang menyebut sebagai penjara suci?”
Tak lama kemudian ada rumput yang melintas di hadapannya, dia menjinjing setumpuk sampah yang akan dibuangnya ke dalam bak sampah berkumpul bersama temannya yang tak punya arti lagi, suasana hening kembali setelah rumput kembali ke kamarnya untuk meneruskan mimpinya.

Malam semakin hitam para santri yang sudah tertidur pun semakin asyik dengan mimpi mereka masing-masing. Sementara senyap terus menuntun seonggok Batu mencari jawaban atas pertanyaannya.
Dingin pun semakin menyekap, membuat kulit Batu merinding. Batu kemudian mengalihkan pandangannya ke langit. didapatinya satu mata yang indah sedang memperhatikannya, setia dalam kerenungan lalu tertinggal kejadian yang baru Batu lewati.
Ujarnya, ”apakah aku sama seperti halnya sampah tadi? Dibuang karena sudah tak ada arti lagi dan hanya membuat pandangan manusia sesak.
“Aku tak lebih dari sebuah onggokan Batu yang tak ada guna dalam keluarga dan hanya membuat orang tua kesal terlebih lagi mereka sudah bosan untuk mengurusi atau mendidikku jadi mereka membuangku ke tempat ini.
Cukup lama Batu memikirkan keberadaannya di sini, matanya sudah tak kuat lagi untuk menatap malam seperti sebuah bola lampu yang mulai redup ditambah angin yang lembut menyentuh wajahnya seolah meninabobokkan lalu Batu pun beranjak dari sandarannya, ia rebahkan selimut kunig kumal di atas keramik yang begitu dingin sebagai tilam untuk merangkai mimpi tidurnya.
Tempat pukul 04:00 suara petugas peribadatan gaduh membangunkan para santri. Batu yang merasa baru 1 jam tidur, enggan untuk membukakan matanya tidak menggubris teriakan sang petugas ditambah rasa dingin membuat dia semakin betah saja dalam mimpinya. Sementara santri yang lain sudah berjalan meninggalkan dirinya untuk melaksanakan shalat subuh berjama’ah.
Tapi jauh dalam hatinya berkata “apakah aku harus kalah dengan rasa dingin dan kantuk sehingga aku harus meninggalkan kewajibanku kepada Tuhan.” Seketika dia bangun dari mimpinya tak perdulikan rasa dingin yang menggerogoti kulitnya berjalan ke jamban yang ada di belakang WC dia ambil air wudhu dan khidmat menghadap kepada Tuhan tidak seperti biasanya shalatnya yang sekarang lebih khsusus meskipun hanya munfaridz.
Ketika usai shalat hentakkan doa-doa mengalir begitu saja dari mulutnya.
“Ya rabb benarkah kedua orang tuaku hanya membuangku ke tempat ini.
Sungguh berdosa aku bila ternayta aku hanya menyakiti hati mereka yang membesarkan ku!!
Ya Rabb mengapa kau beri aku hidup jika hanya bisa buat mereka sakit hati.”
Batu bangkit dari duduk doanya ia langsung berangat ngaji yang rutin dilaksanakan setelah shalat subuh.
Ternyata Tuhan langsung mengabulkan doanya. Pertanyaan Batu dijawab melewati mulut Kiyai yang sedang memberikan dakwah pada para santri yang memang pada waktu itu sedang berfikiran negativ, sama seperti halnya Batu.
Kata pak Kiyai “Kalian dimasukkan ke pesantren ini bukan dianggap sebagai tak berguna tapi untuk supaya kalian berguna dengan berbagai hidangan ilmu-ilmu Tuhan yang mungkin terlalu banyak. Kebenaran mempunyai cara sendiri untuk menunjukkan dirinya tak perlu kita menganggap bahwa orang tua itu kejam.”
Batu pun merasa lega karena semua jawaban atas pertanyaan sudah ada di depannya.
Semangat untuk mencari ilmu pun terus berkobar di dadanya.

Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
 

Latest Members

Galeri Foto

Berlangganan FEED via email

Enter your email address:

Latest Comments

Who's Online

We have 5 guests online