You are here: Home Ekspresimu Cerpen Dheindy

KOMUNITAS MATAPENA

Dheindy

E-mail Print PDF
Gemercik hujan membasahi seluruh alam al-Falah. Semilir angin disertai dinginnya udara pagi mendukung para santri untuk tertidur pulas. Tak seorang pun yang terbangun melainkan Dheindy sendiri. Cewek ini merupakan yang paling unggul di antara yang lainnya.
Tok…tok… Suara keamanan mulai muncul untuk membangunkan anggota setiap kobong. Satu persatu santri bangun dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu mempersiapkan diri untuk shalat berjamaah.
Shobahul khoir…! Kegiatan muhadatsah pagi mulai berlangsung. Membuat suasana pagi menjadi hangat dengan teriakan para santri. Setelah selesai muhadatsah pagi para santri berlari-lari untuk mengantri mandi pagi. Kasihan Dheindy dan Riska, mereka dapat urutan terakhir.
“Dheindy udah siap belum?” Sambil mengambil sepatu untuk lomba lari marathon.
“Ok, ok, sebentar lagi!” ia menimpali Riska, keras.
Cleng… cleng… lonceng pun mulai dipukul. Dheindy dan Riska bergegas lari sekencang mungkin. Namun usaha mereka untuk tidak terlambat ternyata sia-sia. Kismul Amni sudah stand by di gerbang pintu sekolah sambil bawa jilitan (ih… serem juga yach, kaya kusir delman). Mereka  terdiam seketika tak bisa berbuat apa-apa. mereka sudah pasrah untuk nerima hukuman dari Kismul Amni.
“Kenapa kalian telat?” Tanya Kismul Amni pasang muka kaya gorilla (he…he).
“Afwan, akhi,.. aku baru selesai mandi. Soalnya ngantrinya panjang… banget! timbal Dheindy sambil narik-narik baju Riska.
“Iya  al-Akh! Bolehkan kita masuk sekarang? Riska mencoba merayu.
 “Boleh, boleh, tapi dengan satu syarat. Kalian harus jalan kaya bebek sampai kelas, ok! Itu baru peringatan kalo kalian terlambat lagi tunggu aja tanggal mainnya!” Dengan hati puas dan senang bisa ngehukum Dheindy dan Riska yang dia nanti-nantikan.
Saat itu merupakan saat yang sangat memalukan bagi mereka. Setelah sampai di depan kelas mereka, terlihat sesosok lelaki tampan, yang cool abis and jutek abis dech. Namanya Andi, sama kelas XII. Namun dia berbeda jurusan dengan Dheindy dan Riska. Dia adalah cowok yang diidam-idamkan Dheindy sejak ia jadi OSIS. Sebenernya keduanya sama-sama suka, namun karna keduanya sama-sama sok jaim, jadinya githoe dech. Pada dipendem.
Begitu juga Riska, sahabat Dheindy, dia juga suka sama Andi. Tapi dia tahu kalo sahabatnya juga suka sama dia. Riska hanya bisa memendamnya sendiri, semua keirian, kecemburuan dan kesakit-hatian terhadap sahabatnya itu. Dan dia pun pasrah, akhirnya dia memutuskan untuk mendukung Dheindy, karna cinta tidak mesti harus memiliki, betul kan!
“Dheindy, ke aula yuk kita ikutan kaligrafi,” ajak Riska dengan semangat, udah siap di depan pintu aligart menunggu sahabatnya.
“Iya, Ris, tunggu dulu sebentar,” nggak kalah semangatnya, dia sibuk menghias diri, memeprsiapkan diri untuk melihat dan bertemu pangeran yang sedang latihan nasyid di aula. Kan mereka ikutan fefstival di UIN Bandung.
Sesampainya di aula, Dheindy dan Riska, langsung mengikuti ekskul tersebut. Sambil curi-curi pandang tuk ngeliat idolanya yang sedang latihan nasyid.
Terutama Dheindy, dia bukannya ikutan ekskul kaligrafi dengan baik, dia malahan memandang pangeran idamannya sambil bengong, saking senengnya sang idola ada di depan mata.
“Karenanya, pangeranku, adai aku ada di sampingnya!” Dhendiy menghayal.
“Dar…!” Riska mencoba memudarkan khayalan Dheindy yang sudah menghayal jauh.
“Apaan sich. Ngeganggu ajach.”
“Khusyu’ banget sich, Lu!”
“Ya iya lach, orang di sana ada pangeran idamanku.”
Mereka pun saling mengejek. Tanpa disangka si Andi pun datang dengan sifat gentlenya. Dheindy dan Riska terbengong. Tapi tiba-tiba Andi  bernyanyi membawa lagu nasyid, sambil mendekati Dheindy.
Di kedalaman hatiku tersembunyi harapan yang suci
Tak perlu engkau menyaksikan
Lewat kesalihanmu yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata
Dheindy pun tersentak kaget, dia tidak menyangka kalau pangeran namanya akan mendekatinya dan menyanyikan lagi itu di dekatnya. Dia pun malu disertai kaget. Jantungnya terus berdebar kencang, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya seolah-olah dia  diguyur air keringat dari atas.
Sesaat kemudian Andi mencoba untuk bisa jujur kepada Dheindy mengenai perasaannya yang telah lama ia pendam.
“Dheindy aku ingin berkata jujur sama kamu.”
“Ju…ju…jur…ten…tang…apa…?” Dheindy gagap.
“Sebenarnya semenjak kita sama-sama menjadi pengurus teras OSIS, timbul rasa cinta dan kasih sayang yang sangat mendalam terhadapmu. Aku terkagum dengan kepintaranmu yang selalu menjadi juara dan idola. Aku kagum dengan akhlakmu yang tetap kokoh dengan regak walaupun diterpa angin badai, aku terpesona dengan bakatmu yang tidak dimiliki oleh perempuan lain. Dheindy! maukah kamu menjadi bidadari pujaanku?” Sambil bermuka takut. (Takut di tolak kalie) disertai harapan tuk diterima.
“Ehm…” Dheindy bingung.
“Jawablah, Dheindy!”
Dheindy pun terdiam. Dia merasa ragu dengan pernyataan Andi yang secara spontan mengungkapkan isi hatinya. Tapi, sebenarnya dia ingin sekali menerima Andi. Tapi dia takut kalau Andi hanya bermain saja. Soalnya Dheindy tahu kalau Andi itu orangnya nggak gaul dan bergaulnya sama para playboy. Dheindy pun langsung berlari meningkatkan Andi tanpa jawaban.
Satu minggu telah berlalu. Dheindy sekarang jarang kelihatan aktif. Dia tampak sangat pendiam. Karena masih memikirkan kejadian seminggu lalu di aula. Dia sering melamun di depan kelas. Riska pun bingung dia harus berbuat apa terhadap sahabatnya, yang biasanya ceria tiba-tiba jadi pendiam seketika. Sebenarnya Riska tahu masalahnya cuman dia bingung harus berbuat apa untuk  membuat sahabatnya ini kembali ceria.
“Dheindy, kamu kenapa?” Riska mendekati.
“Ris… aku bingung harus bagaimana menjawabnya?” sambil menangis memeluk Riska.
“Dy… menurut aku lebih baik kamu jujur aja sama Andi kalau kamu juga suka sama dia. Dan terima keinginannya agar kamu menjadi bidadari pujaannya.”
Riska menyarankan sambil mengelus-elus kepada sahabatnya.
“Ris, aku takut dia itu bohong!” Nangisnya semakin membesar suasan mengahrukan tersebut diketahui oleh Andi. Dan akhirnya Andi pun menulis surat dan mengirimkannya lewat sahabatnya doa untuk dikirimkan pada Dheindy.
“Dheindy, ini ada titipan dari seseroang.”
“Terimakasih,” timbal Dheindy dengan wajah pucat.
“Sama-sama.” Kemudian dibukalah surat tersebut.

Beleentah, 4 Desember 2006

Dear: My vairy. Love.

Ku tahu kesedihanmu saat ini, adalah suatu kebimbangan terhadap pernyataanku seminggu yang lalu.
Kutahu saat ini kau adalah bidadari yang kutunggu kedatanganmu.
Kutahu kau mencintaiku walaupun kau tak mengungkap kedatanganmu.
Kutahu kau mencintaiku walaupun kau tak mengungkapkannya.
Dan kutahu kau meragukan pernyataanku seminggu yang lalu.
Jangan kau ragu terhadap diriku.
Jangan kau ragu terhadap cintaku
Jangan kau ragu terhadap kejujuranku
Karna aku sungguh sangat sayang kamu.
Dan aku pun yakin bahwa kau sayang aku.

Dheindy, kuberharap kau bisa menjawab pernyataan cintaku pada seminggu yang lalu yang kutunggu darimu.
Apabila kau menerimaku balaslah surat ini sekarang juga. Kalau kau menolak, janganlah kau balas surat ini yang diwarnai kesedihan hati yang dapat merusak jiwaku.
Trims, kumenunggu jawabanmu.

Me!
Yang mencintaimu

Sesaat kemudian, Wheindy langsung tersenyum, keraguannya kandas dengan sekejap. Dia pun segera membalas surat itu.
“Riska…! bantuin aku dong buat surat balasan ini.”
“Oke…oke…!”

Baleendah, 4 Des 2006

Dear:
Pangeran pujaanku sekarang kutak ragu lagi
Sekarang kutak sedihlagi
Sekarang kutak bimbang lagi
Karna dirimu telah meyakinkanku
Karna dirimu telah mengobatiku
Kujujur aku sangat sayang kamu
Kujujur aku sangat sayang kamu
Kujujur aku ingin menjadi bidadarimu
Dan aku terima cintamu bila kau benar mencintaiku.
Dan aku berharap kamu menjadi pangeran pujaanku
Trims atas kejujuranmu
Me!
Yang kau puja

Setelah itu dengan bantuan sahabatnya, Riska, surat balasan sampai ke tangan Andi.
Banyak perubahan yang terjadi pada diri Andi, yang dulunya terkenal nakal, dia kini tambah berakhlak baik, sehingga banyak santri-santri yang kagum akan perubahannya.
Dia aktif dalam berorganisasi, rajin sholat jamaah, bergaya kaya syeikh. Tampak dewasa, rajin mengikuti belajar bersama, sehingga Dheindy semakin sayang dan cinta.
Kini Dheindy dan Andi menjadi pasangan faorit di sekolahnya. Karena santri-santri di sana menganggap mereka pasangan yang serasi.
Ternyata pendapat para santri berbeda dengan pendapat para asatidz dan asatidzah. Hubungan mereka dikethaui oleh seluruh asatid dan asatidzah. Kecurigaan  mereka timbul ketika prestasi belajar keduanya mulai menurun dan sering kepergok janjian di perpus, kantor OSIS, dan lain-lain.
Malam tiba. Para asatidz dan asatidzah disertai dengan kismul amni telah berkumpul di tempat persidangan.
Namun rencana tersebut tidak diketahui oleh santriwan dan santriwati termasuk Dheindy dan kekasihnya, Andi. Pada pukul 20.00 Dheindy dipanggil begitu juga Andi untuk mendatangi tempat persidangan yang sangat ditakuti oleh para santri.
Dheindy ketakutan dan bingung kenapa dia dipanggil ke tempat itu. Emangnya dia salah apa. begitu juga Andi, dia merasa dia tidak pernah berbuat kesalahan yang sangat berat sehingga dia harus datang ke tempat persidangan tersebut.
Lalu sampailah keduanya di depan pintu tempat persidangan. Keduanya saling terkejut kenapa bisa dipanggil di tempat yang sama.
“Dheindy, kamu dipanggil juga,” dengan penasaran.
“Iya, Andi. Kok bisa sama sih?” Dheindy mulai cemas.
“Apa karna hubungan kita?” Andi mulai curiga.
Akhirnya mereka berhadap-hadapan dengan para asatidz dan asatidzah. Merka berdua hanya bisa terdiam dan menundukkan kepala,  menunggu saat untuk mengetahui apa salah mereka.
“Dheindy, apa bener kamu pacaran sama Andi?” Salah seorang asatidz mencoba bertanya disertai muka seram dan suara kencang.
Dheindy hanya terdiam dengan rasa takut dan keringat dingin.
“Andi, kamu pacaran sama Dheindy! Jawab!” Sambil memukul meja. Mereka berdua tersentak kaget.
“Andi, Dheindy, dengarkan baik-baik di sini kalian disekolahkan untuk belajar, bukan untuk pacaran! Ngerti kalian!” Timpal seroang ustadz.
“Mulai saat ini para asatidz dan asatidzah mengingatkan kalian untuk memilih, kalian putus saat ini juga dihadapan kamu semua atau kalian keluar dari sekolah ini!” Seorang asatidz mewakili.
Dengan seketika air mata datang tanpa diundang, membasahi pipi Dheindy yang selembut sutra dan sepputih salju. Dia tak mau putus dengan Andi, kekasihnya. Karena hanya Andilah lelaki yang paling Dheindy sayangi waktu itu.
Apalagi Andi adalah sesosok lelaki yang setia. Dan dia berjanji akan menjalani kisah cintanya sampai ajal memisahkan mereka. Namun, ternyata Andi punya rencana lain.
“Andi! Ayo jawab! Mau putusin Dheindy atau keluar dari sekolah ini! Tambah tegas.
“Baik, pak! Saya memutuskan untuk putus dengan Dheindy!” perkataanya tampak ragu.
“Hah…!!!” Dheindy kaget.
Dheindy langsung pergi meninggalkan persidangan itu tanpa pamit. Dia kecewa dengan keputusan kekasihnya yang dia rasa tak mungkin. Dia langsung pergi ke kobong sahabatnya.
“Riska!” Dheindy mendobrak pintu, mengagetkan, seluruh penghuni kobong Palestina.
“Ada apa, Dheindy!” Riska panic melihat sahabatnya yang tak bersikap biasa.
Dheindy menceritakan kejadian dalam persidangan dengan Kismul Amni barusan. Dheindy terus menangis sampai malam menjelang hingga ia tak sadar terlelap tidur.
Cerahnya pagi tak secerah keadaan Dheindy sekarang. Kesedihannya membuat ia jatuh sakit. Dia tidak masuk sekolah beberapa hari. Andi menggetahuinya. Dikirimkannya selembar surat:

Dear: kekasih hatiku
Sekarang engkau terbaring lemas. Akupun merasakannya. Maaf ku tak bisa menjengukmu karna keadaan yang membatasi. Tapi do’aku untukmu tak terbatasi oleh apapun. Semoga kau sehat kembali.
Aku mau minta maaf. Soal keputusanku waktu lalu, sebenarnya aku tak mau melakukannya namun aku terpaksa. Karna aku nggak mau kita keluar dari sini. Munkginkah kita akan bersama kembali di luar sana? Aku memutuskan itu hanya di depan mereka tapi tidak di depanmu. Silahkan kau benci aku, tapi cintaku padamu takkan kandas.” Moga kau mengerti.
Tuk menghiburmu kupersembahkan nyanyian untukmu.

Tak perlu aku ragu.
Sucinya cinta yang kau beri.
Kita saling kasih mengasihi
Dengan setulus hati…..
Ayah ibu kan merestui
Menyarung cincin di jari
Dengan rahmat dari Ilahi
Cinta kita pun bersemi

Karya:
“Nenden Fitria Ulfah” ( N’dheint)

Dheindy tampak gembira membaca surat itu. Ia sadar akan keegoisannya sendiri.
Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
Last Updated ( Sunday, 20 December 2009 14:52 )  

Latest Members

Galeri Foto

Berlangganan FEED via email

Enter your email address:

Latest Comments

Who's Online

We have 2 guests online