Catatan sang musyafir: Badrul Munir Chair
Part I: Cerita Keberangkatan
Nanti kita kumpul di stasiun Tugu jam 17:30, kereta berangkat jam 18:00.
Sebuah SMS masuk ke inbox HP saya, sebuah pesan singkat dari Mbak Pijer, ketua rombongan kami dalam perjalanan menuju Jakarta. Akhirnya, kami jadi berangkat hari jum’at, setelah sebelumnya ditunda dari jadwal sebelumnya kamis sore.
17:28 Saya sampai di stasiun Tugu, menunggu di sepan pintu masuk seperti yang telah dijanjikan sebelumnya. Namun, setelah di tunggu beberapa lama, ternyata tak ada satupun dari anggota rombongan yang kelihatan. Saya mencoba menghubungi kembali Mbak Pijer, ternyata mbak Pijer masih berada dalam perjalanan, akhirnya saya disuruh menghubungi Mbak Khilma yang katanya sudah berada di stasiun. Begitulah, hingga akhirnya kami semua berkumpul di lobi jalur lima, tempat pemberangkatan kereta ekonomi menuju Jakarta.
18:30 Terlambat setengah jam dari jadwal pemberangkatan, akhirnya kereta “Senja Utama” melaju perlahan, merangkak di atas rel yang penuh tumpukan bebatuan. Kami duduk pada posisi, menyerahkan tiket pada petugas. Baru beberapa menit kereta berjalan, salah satu anggota rombongan kami yang hanya empat orang, Mbak Khilma, sudah mengeluh lapar. Saya berbisik dalam hati “Dasar gendut!,yang dipikirin cuma makan, lihat tuh badan, besarnya sudah ga’ karuan ,untung dia manis” (hehehe, bacanya jangan keras-keras, ntar di dengar orangnya ^-^), demi satu orang dan atas nama kekompakan, akhirnya kami semua pun ikut makan. Nyam…nyam…nyam
Kabar Kita