
Tahlilan, sebuah kata yang sudah cukup akrab di kampung-kampung, di jawa khususnya. Budaya yang religius-sosialis, begitu menurut saya. Selain dekat dengan arti keberagamaan seseorang, Islam khususnya, budaya ini juga mampu mengikat unsur-unsur sosial kemasyarakatan.
Saya jadi ingat, sejak kecil saya akrab dengan kata itu, Tahlilan ke masjid dengan membawa uang 500 rupiah untuk infak. Forum remaja kampung yang rutin dilaksanakan setiap minggu. Rangkaian do’a mulai surat-surat pendek, al-ikhlas, al-falaq, an-naas, dan al-faatikhah, lalu dilanjutkan 5 ayat surat Al-Baqoroh, ayat kursiy, tasbih, tahmid, takbir, sholawat, sampai pada puncak membaca tahlil dan do’a.Waktu itu terpatri dalam ingatanku, siapa yang tak mau ikut tahlilan, berarti dia orangnya ‘nggak gaul’. Kuper alias kurang pergaulan. Tidak tahu banyak isu-isu yang pastinya secara otomatis jadi bahan diskusi alias ‘nggosip’ setelah ritual tahlilan tersebut.