You are here: Home Kabar Kita Kabar Kegiatan Jendela Rumah Kiyai

KOMUNITAS MATAPENA

Jendela Rumah Kiyai

E-mail Print PDF
Karya: Pupah
Pagi yang sejuk dan damai dengan lantunan ayat-ayat al-Qur’an yang mengalun dari bibir-bibir santri al-Mawaddahtelah menembus dinding langit, memaksa malaikat Mikail menebarkan dzat Rahim Tuhan pada belahan bumi, yang membangunkan malaikat Jibril dari dzikir di ‘arsy, yang menyibukkan malaikat Ridwan menyediakan ruang-ruang surga.
“Ad-Dunya La’bun wa Mata’un” piker seorang gadis yang berpakaian elegant, dan menyandang gelar Hamilah atau lebih masyhurnya Hafidlah, yang diberi nama orang tuanya Safira sesuai sejarah kelahirannya, di mana orang tuanya belum menetap tempat kerjanya.
“Tapi kenapa ayat itu terdapat dalam surat al-An’am ayat 32 ya? Al-An’am artinya binatang ternak. Berarti binatang ternak termasuk macam dari permainan dunia. Hehehe” Safira tersenyum sendiri mendengarkan kenakalan nalarnya.
“Permainan pasti ada yang menang dan ada yang kalah dan kadang malah seri. Aku akan memilih menjadi pemenang. That’s right… I will do the best.” Otak Safira berdiskusi sendiri, sembari mengeluarkan motornya dari area parker pondok.
---o0o---
 “Mengangkat isu poligami seorang Kiyai. Bercerita tentang Kiyai, Faiq Zakaria, yang poligami. Memiliki seorang istri muda bernama Safira, seorang aktivis perempuan anti poligami. Pernikahan poligami ini sebenernya tidak dilandasi oleh cinta. Namun karena sebuah “keterpaksaan”, akhirnya pernikahan itu dilaksanakan.
Kiyai Faiq sebenarnya masih belum mampu “membedah” makna adil sesungguhnya. Demi saling menjaga perasaan, kebohongan-kebohongan pun menjadi “hiburan”. Ada tokoh lain bernama Mafaz yang juga mencintai Safira (yang pada akhirnya, Safira menjadi janda).” Begitulah pengantar yang diberikan oleh Masfufah, cewek yang lebih akrab dipanggil dengan Pupah ini.
    
Setelah Pupah memberikan pengantar dan menyampaikan abstraksi dari sinopsis karyanya itu, beberapa tanggapan kemudian mulai menghujani dirinya. Munajat Sunyi, salah seorang peserta yang hadir pada waktu itu menjadi penanggap pertama.
“Mengingatkanku pada novel NAFSUL  MUTHMAINNAH, alurnya hampir sama dan jalan ceritanya juga hampir mirip.”
“terdapat sedikit kesalahan pada halaman 13, sebuah puisi: ‘aku ingin mencintaimu dengan sederhana’, itu punya sapardi, bukan punya Kahlil Gibran…” lanjutnya.

Faqih, sebagai orang kedua yang berkomentar menegaskan apresiasinya terhadap karya Pupah tersebut. Menurutnya, yang paling penting adalah setting yang kurang kuat. Apa yang menjadi titik tekan oleh Faqih, diamini pula oleh Winda, seorang lagi yang juga turut mengapresiasi pada bedah bakal novel itu. Ia melanjutkan bahwa alur juga terlalu memaksa sehingga sedikit bikin boring, terlalu banyak kata ‘hehehe…’ yang terkesan kurang penting. Akan tetapi, ide yang ditawarkan buagus buanget.
 
Seperti itulah sekelumit gambaran yang acara yang di selenggarakan pada 9 Oktober kemarin. Dalam kegiatan seperti itu, Pupah bukanlah orang yang pertama kali “diadili” oleh para pembedah yang cukup professional dlaam bidangnya. Akan tetapi, komentarnya setelah usainya acara bedah-membedah tersebut, Pupah merasa semakin tertantang untuk menyelesaikan karyanya itu agar menjadi karya yang lebih baik. Seperti halnya komentar para penulis lain yang karyanya lebih dulu dibedah, sebut saja misalnya Wawan Hermawan, Anton Prasetyo, K. Moch. Mahrus, dan lain-lain. Dalam diskusi bedah novel semacam itu, banyak hal yang mereka dapatkan. Tidak hanya kritik dan saran, apresiasi yang melimpah dari sekian banyak komentar, setidaknya dapat memberikan wawasan tambahan bagi semua yang hadir pada waktu itu. Tentu bagi mereka yang novelnya telah dibedah, semakin percaya diri bahwa semua oran bisa menulis, dan bagi mereka yang novelnya masih dalam tahap proses, semakin tertantang untuk menyusul proses kreatif yang lebih dulu merampungkan karya sastranya.

So, tunggu apa lagi. Bagi temen-temen yang ingin berproses bersama, matapena selalu membuka pintu untuk sharing dan apapun kebutuhan yang diperlukan oleh temen-temen. Tunggu apa lagi!!! Kita nggak perlu menunggu dalam hal proses kreatif semacam itu. MARI KITA JEMPUT BERSAMA-SAMA.
Comments (0)Add Comment

Write comment

busy
 

Latest Members

Galeri Foto

Berlangganan FEED via email

Enter your email address:

Latest Comments

Who's Online

We have 3 guests online