You are here: Home Wacana

KOMUNITAS MATAPENA

Mencari-Cari Penulis Perempuan Pesantren

E-mail Print PDF

Oleh: Nor Ismah
Suatu ketika saya bertanya kepada seorang sahabat saya, “Ada nggak, Ibu Nyai yang juga seorang penulis?” Sahabat saya itu menjawab, “Ada. Nihayatul Wafiroh.” Tentu saja jawaban itu membuat saya terbahak karena dia menyebut namanya sendiri. Narsis, tapi memang beralasan karena tulisan dia paling tidak pernah dimuat di Kompas dan beberapa media nasional yang lain, dan dia memang seorang Ibu Nyai. Lalu, saya kembali bertanya, “Maksudku yang satu generasi dengan Ahmad Tohari atau Gus Mus?” Kali ini dia balik tertawa, berpikir sejenak, dan lalu menjawab, “Kalau itu sih, kayaknya tidak ada.”

Lalu, iseng-iseng saya coba membuka buku antologi puisi Risalah Badai yang terbit pada tahun 1995. Di antara 12 penulis yang masuk dalam antologi itu, hanya ada 3 penyair perempuan. Sama halnya ketika saya membuka buku Lirik Lereng Merapi yang terbit tahun 2001, dari 32 penyair hanya ada 9 penyair perempuan yang ikut menyumbangkan karya dalam buku antologi puisi itu. Meskipun dua buku tersebut tidak secara khusus memuat puisi tentang pesantren atau para penyair pesantren, paling tidak secara kasatmata bisa menunjukkan bahwa penulis, penyair, dan sastrawan perempuan memang lebih sedikit dibanding laki-laki, lebih-lebih jika perbandingan itu ditarik ke wilayah yang lebih spesifik, yaitu pesantren.

Last Updated ( Tuesday, 02 June 2009 11:14 )
 

Sastrawan Muda (Pinggiran) di Pesantren

E-mail Print PDF
TAHUN 2006, tahun penuh warna, akan segera berlalu.Tahun 2006,tentu menyisakan banyak cerita seputar jagat seni menulis. Sepanjang tahun penuh bencana itu, jagat seni menulis dan jagat perbukuan Indonesia masih didominasi karya sastra. Karya-karya sastra dari pelbagai macam genre muncul merebut simpati publik.

Semuanya serbariuh dan gemerlap. Namun, di balik gejala menggembirakan bagi dunia sastra itu, karyakarya sastra yang banyak bertebaran ternyata lebih banyak dihasilkan oleh para pemain lama, nyaris tanpa ada nama baru, apalagi penulis muda. Hanya ada nama Radhar Panca Dahana, Jakob Sumardjo, Remy Sylado, Maman S Mahayana,Ayu Utami, Nirwan Dewanto,Seno Gumira Aji Darma, Hudan Hidayat,Agus Noor,Puthut EA, Djenar Maesa Ayu,dan Dewi Lestari.
 

Ledakan Sastra Pesantren Mutakhir

E-mail Print PDF
Esai: Ridwan Munawwar
Sejak sekitar awal millennium ke-3, sastra pesantren di Indonesia menunjukkan geliat yang tidak main-main. Kreatifitas dan produktivitas sastra pesantren meningkat drastis baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Tentunya ini suatu hal yang signifikan dan positif, meski menyimpan komplikasi keunikan tersendiri di belakangnya. Di satu sisi, fenomena ledakan sastra pesantren menunjukkan sekaligus mengukuhkan eksistensi pesantren sebagai salah satu unit peradaban yang tak pernah kering dari penciptaan-penciptaan baru, khususnya dalam dunia kesusasteraan.

Padahal kita tahu, bahwa terma kesenian sampai saat sekarang masih menjadi suatu hal yang problematik dalam paradigma dan mainstream keagamaan kalangan pesantren. Seni (fan) dan kesenian (al-fannan) dianggap urusan yang tidak esensial, bahkan dicurigai sebagai sesuatu yang bisa melenakan orang, membuat penikmatnya berleha-leha, melalaikan orang dari urusan syari’at (Zainal Arifin Toha, 2002).
 

Latest Members

Galeri Foto

Berlangganan FEED via email

Enter your email address:

Latest Comments

Who's Online

We have 4 guests online